Sabtu, 05 Januari 2013

Persepsi


A.     Pengertian Persepsi

Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris perception berasal dari bahasa Latin perceptio, dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Kata persepsi biasanya dikaitkan dengan kata lain, menjadi persepsi diri, persepsi sosial dan persepsi interpersonal.
Persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas adalah pandangan atau pengertian, yaigu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Menurut Devita, persepsi ialah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi indra kita. Gulo mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. Yusuf menyebut persepsi sebagai pemaknaan hasil pengamatan. Pareek memberikan definisi yang lebih luas ihwal persepsi ini sebagai proses menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji dan memberikan reaksi kepada rangsangan pancaindra atau data.
Banyak ahli yang mencoba membuat definisi dari ‘persepsi’. Beberapa di antaranya adalah:
  1. Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito).
  2. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff).
  3. Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower).
  4. Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson).
  5. Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson).
  6. Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).
  7. Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.
B.     Proses Persepsi
Dari segi psikologi dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia memandang. Oleh karena itu untuk mengubah tingkah laku seseorang, harus dimulai dari merubah persepsinya. Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponen utama berikut:

a. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indra terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit
b. Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang
c. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sbeagai reaksi
Jadi, proses persepsi ialah melakukan seleksi, interpretasi dan pembulatan terhadap informasi yang sampai

Proses fisik adalah proses stimulus mengenai alat indra.
Proses fisiologi adalah stimulus yang dterima oleh alat indra diteruskan oleh saraf sensoris ke otak.
Proses psikologis adalah proses yang terjadi dalam otak.

Dalam defenisi persepsi yang dikemukakan oleh pareek, mencakup beberapa segi atau proses, yaitu :

a.       Proses menerima rangsangan
Proses pertama dalam persepsi adalah menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diperoleh melalui pancaindra.
b.      Proses penyeleksi rangsangan
Setelah diterima, rangsangan atau data diseleksi. Dua kumpulan faktor menentukan seleksi rangsangan. Yaitu :

Faktor Intern :
a)      Kebutuhan psikologis
b)      Latar belakang
c)      Pengalaman
d)      Sikap
e)      Kepercayaan umum
f)       Penerimaan diri

Faktor Ekstern :
a)      Intensitas
b)      Ukuran
c)      Kontras
d)      Gerakan
e)      Ulangan
f)       Keakraban
g)      Sesuatu yang baru
Devito menyebutkan enam proses yang mempengaruhi persepsi :
1)      Teori kepribadian implisit
2)      Ramalan yang dipenuhi sendiri
3)      Aksentuasi perseptual
4)      Primasi-resensi
5)      Konsistensi
6)      Stereotip
c.       Proses pengorganisasian
Rangsangan yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu bentuk. Terdapat tiga dimensi utama dalam pengorganisasian rangsangan, yakni :
1.      Pengelompokan
Faktor yang digunakan untuk pengelompokan rangsangan antara lain :
1)       Kesamaan, rangsangan-rangsangan yang mirip dijadikan satu kelompok
2)       Kedekatan, hal-hal yang dekat antara satu dengan yang lain juga dikelompokkan menjadi satu 
3)      Ada suatu kecenderungan untuk melengkapi hal-hal yang dianggap belum lengkap
2.      Bentuk timbul dan latar
Dalam melihat rangsangan atau gejala, ada kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada gejala-gejala tertentu yang timbul menonjol, sedangkan rangkaian / gejala lainnya berada di latar belakang.
3.      Kematangan persepsi
Ada suatu kecenderungan untuk menstabilkan persepsi dan perubahan-perubahan konteks tidak mempengaruhinya

d.      Proses penafsiran
Setelah rangsangan atau data diterima dan diatur, si penerima lalu menafsirkan data itu dengan berbagai cara. Dikatakan bahwa telah terjadi persepsi setelah data itu ditafsirkan.
e.       Proses pengecekkan
Setelah data diterima dan ditafsirkan, si penerima mengambil beberapa tindakan untuk mengecek apakah penafsirannya benar atau salah. Data itu dapat dicek dengan menanyakan kepada orang-orang lain mengenai persepsi mereka.
f.       Proses reaksi
Tahap terakhir dari proses perseptual ialah bertindak sehubungan dengan apa yang telah diserap. Hal ini biasanya dilakukan jika seseorang berbuat suatu sehubungan dengan persepsinya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu :
*    Faktor internal
Yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu :
A.Fisiologis, informasi masuk melalui indra, selanjutnya mempengaruhi usaha dan melengkapinya untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitar. Kapasitas indra untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda, hingga interpretasi terhadap lingkungan juga berbeda.
B.  Perhatian, individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu objek. Energi pada tiap orang berbeda sehingga perhatiannya pada objek juga akan mengalami perbedaan dan hal ini akan mempengaruhi persepsi pada suatu objek.
C. Minat, persepsi terhadap suatu objek bervariasi, tergantung banyak energi atau perseptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perseptual vigilance merupakan kecendrungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
D. Kebutuhan yang searah, dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
E. Pengalaman dan ingatan, pengalaman dapat dikatakan bergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadan-kejadian lampau untuk mengetahui sesuatu rangsangan dalam pengertian luas.
F. Suasana hati, keadaan emosi mempengaruhi prilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi, dan mengingat.

*    Faktor eksternal
Merupakan karakteristik dari lingkungan dan objek-objek yang terlibat di dalamnya diantaranya :
1.      Ukuran dan penempatan dari objek atau stimulus
Artinya semakin besar hubungan suatu objek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu objek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
2.      Warna dari objek-objek
Objek yang punya cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami.
3.      Keunikan dan kekontrasan stimulus
4.      Intensitas dan kekuatan dari stimulus
5.      Motion dan gerakan
Individu akan banyak memberi perhatian terhadap objek yang memberi gerak dalam jangkauan pandangan dibanding objek diam.[1]


Selain dari faktor internal dan eksternal, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi persepsi diantaranya :
Ø  Ketersediaan informasi sebelumnya;
ketiadaan informasi ketika seseorang menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam mempersepsi. Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi pelajaran yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu. Seseorang yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal yang tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan peserta diskusi lainnya. Informasi juga dapat menjadi cues untuk mempersepsikan sesuatu.
Ø  Kebutuhan
 seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.
Ø  Pengalaman masa lalu
sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Pengalaman yang menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu. Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna merah dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua] karena pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang memiliki pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung mempersepsikan bosnya itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya yang lain tidaksenangdengansibos

Faktor lainnya yang mempengaruhi persepsi adalah :
1.      Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor, stimulus dapat dating dari luar individu maupun dari dalam individu yang bersangkutan.
2.      Alat indera, saraf dan Pusat susunan saraf
Merupakan alat untuk menerima stimulus, kemudian diteruskan ke saraf sensoris kemudian menuju pusat susunan saraf atau otak sebagai pusat kesadaran, kemudian menuju saraf motoris.
3.      Perhatian
Untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.[2]

Hukum-hukum persepsi
Ø  Hukum pragnanz, pragnanz berarti penting, meaningsful, penuh arti atau berarti. Jadi apa yang dipersepsi itu menurut hukum ini adalah penuh arti, suatu kebulatan yang mempunyai arti penuh, meaningsful. Hukum ini oleh kaum gestalt dipandang sebagai hukum yang pokok.
Ø  Hukum figure-ground, figure merupakan bagian yang dominan dan merupakan focus perhatian, dan ground yang melatarbelakangi atau melengkapi. Kalau individu mempersepsi sesuatu apa yang tidak menjadi fokus dalam persepsi itu akan menjadi latarbelakang. Antara figure dan ground dapat berpindah atau bertukar peran antara satu dengan yang lainnya.
Contohnya pada gambar berikut :
Wajah perempuan atau pemain terompet?
Ada sebagian orang yang melihat itu adalah gambar seorang lelaki yang berhidung  sangat mancung sedang meniup terompet. Dan ada juga yang mungkin melihat kalau itu adalah lukisan wajah seorang wanita.
Ø  Hukum kedekatan, apabila stimulus saling berdekatan antara satu dengan lainnya, aka nada kecendrungan untuk dipersepsi sebagai suatu keseluruhan atau suatu gestalt.
Contoh : xx    xx    xx    xx
Dalam gambar diatas orang akan mempersepsi silang pertama dan kedua, ketiga dan keempat, kelima dan keenam masing-masing merupakan suatu gestalt daripada silang kedua dengan silang ketiga, silang keempat dengan kelima. Inilah yang dimaksud dengan hukum kedekatan.
Ø  Hukum kesamaan (similitary), hukum ini menyatakan bahwa stimulus atau objek yang sama, mempunyai kecendrungan untuk dipersepsi sebagai suatu kesatuan atau suatu gestalt.
Contoh :
x                  x                      x                      x
o                  o                      o                      o
x                  x                      x                      x
o                  o                      o                      o
x                  x                      x                      x
dalam seseorang mempersepsi gambar tersebut, orang akan mempersepsi sebagai suatu deretan silang (x), satu deretan lingkaran (o), satu deretan silang lagi, satu deretan lingkaran lagi, dan begitu seterusnya. Orang tidak akan mempersepsi sebagai suatu deretan silang,lingkaran,silang,lingkaran. Inilah yang dimaksud dengan hukum kesamaan.
Ø  Hukum kontinutas, menyatakan bahwa stimulus yang mempunyai kontinutas satu dengan yang lain, akan terlihat dari ground dan akan dipersepsi sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan.
Hukum kelengkapan dan ketertutupan (closure), dalam persepsi adanya kecendrungan orang mempersepsikan sesuatu yang kurang lengkap menjadi lengkap, sehingga menjadi sesuatu yang penuh arti dan berarti.


[1] http://duniapsikologi.com
[2] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum,2004, hal : 89

Tidak ada komentar:

Posting Komentar